Sabtu, 23 November 2013

Aku dalam perjalananku, Ingkar terhadap janjiku...
Pantang wanita ku sebut dengan lidah ini, Tetapi kini ku gandeng erat dengan jemariku
Aku ingin kembali pada langkah dulu,
Janji yang ku ikat erat di jantungku,
Sebagai tanda ingkar pada ikrar,
 Maka silahkan cabut nafasku,!!!

Rabu, 06 November 2013

Jasmani kini di ujung belati sang raja hari, menyengat kulit, membakar akal, menabur peluh, yang penuh penyeluruh membasuh tubuh...

Sontak irama pekik kata itu mengundang ku ke pelataran rumah reot kecil yang beratap serabut...

Menjajakan segelas air dengan tetesan embun dingin untuk ku hela seraya aku sandarkan tubuh pada batang pohon...

Imajinasiku meluas berbayang tentang asa tinggi yang ku damba pada hari pagi.

Namun senjaku terlanjur sudah meraja diri, kini aku hanya pria tua dengan cangkul dan sabit untuk kujadikan nasi...

Tinggal harapan kecil pada seonggok daging kurus yang menafkahi diri di padang padi...

Terimakasih tuhan engkau masih mengasihani si renta ini...

Senin, 14 Oktober 2013

Mencoba menguak peristiwa di dalam kesemuan rasa yang tak tersurat dalam kata. Membuatku berteori tentang pesona emosi yang tak pernah ku ketahui.
Hari hari yang indah kini selesai sudah, seiring senja meredupkan sinar jingga yang teriknya mewarnai air di mata.
Kadang ku ratapi masa masa kembali, menyortir uraian pecahan kenangan yang berhamburan.
Pekatnya petang tanpa bintang mengisi ruang hampa dalam bekas rajutan lubang pada hati yang sering menyeruak sesak.
Begitu bervariasi rasa yang kau beri, sehingga aku lupa bahwa aku berdiri dalam fatamorgana
Ingin belati ku tikam ke hati, agar aku berhenti bermimpi dan bangun sebagai manusia dengan rasa yang mati.

Minggu, 13 Oktober 2013

Emansipasi atau yang biasa kita sebut kesetaraan. Dalam hal ini emansipasi wanita di artikan kesetaraan hak hak pada kaum wanita. Di zaman sebelum islam datang, wanita tidak lah di anggap manusia. Dalam artian wanita adalah mahkluk kedua setelah laki laki, yang mempunyai fungsi sebagai pemuas atau pelayan pada kaum laki laki. Pada zaman itu bayi perempuaan yang lahir di anggap tidak berguna, dan bahkan membawa aib bagi keluarga tersebut.
Makadari itu Islam datang dan membawa pengertian tentang kesetaraan. Dimana wanita meliki derajat yang sama dengan laki laki, walaupun berbeda peranan. Hak hak kaum wanita di junjung tinggi serta di hormati. Bahkan semenjak islam datang, banyak revolusioner dari para wanita wanita yang makin memperjuangkan hak hak kesetaraan mereka.
Namun di masa kini, perjuangan para pendahulu mereka seperti di sia siakan. Bahkan anak remaja masa kini menafsirkan berbeda, dan cara penafsiranya hanya memihak pada nafsu mereka. Sehingga hanya sistem hedonisme yang mereka terapkan dalam kehidupan.
Contoh remaja remaja masa kini banyak yang mengucapkan "Jika jodoh pasti kita akan ketemu lagi" dan "Jodoh gk perlu di cari, nanti juga dateng sendiri". Nah hal hal seperti ini lah yang di anggap oleh para remaja wanita menyalah artikan dan menyalah fungsikan.
Pasrah yang di anggap mereka itu tidak lah memperjuangkan nilai nilai kesetaraan hak yang mati matian dulu di perjuangkan oleh pendahulu. Karena mereka hanya mengambil sisi yang paling mudah di jalani. Padahal dalam hakikatnya kita tetap di tuntut untuk berusaha dan tak semena mena mengatakan hal semacam itu.
Dalam masa peradaban dulu para wanita sangat lah menghormati kesetaraan itu. Maka mereka juga ikut memperjuangkanya, bahkan ada yang ikut dalam medan perang, demi memperjuangkan itu semua dan membuktikan bahwa wanita bukan mahkluk yang di pandang lemah.
Namun sekali lagi ironinya wanita zaman sekarang sangatllah mengacuhkan nilai nilai kehormatan pada dirmereka sendiri, bahkan tanpa mereka sadari mereka telah membuang kelebihan mereka sendiri. Harusnya mereka lebih bisa sadar atas kedudukan mereka, bukanya membuat hal aneh yang tak patut untuk di katakan seperti itu. Prilaku prilaku ini lah yang mengakibatkan mereka akan menurunkan derajatnya sendiri yang notabenya mereka tidak sudi dipandang rendah.

Sungguh ironi, Pikirkan Renungkan Perbaiki

Selasa, 24 September 2013

Kusandarkan tubuh ini di sudut kelas
Menggores pena pada sebuah kertas

Secercah sinar dari lampu temaram
Menemaniku di kesunyian terdalam

Kusaksikan mereka tertawa
Aku mengeluh pada sahabat pena

Senyum di wajahnya mengubah suasana
Namun aku diam putus asa

Mungkin mereka bisa menumpahkan emosi
Tapi seseorang di pojok itu butuh di mengerti

Sudah lah,
Aku coba bangkit merekayasa senyum
Berbaur pada luka yang mereka buat
Mengisi hati yang tak ingin di hiasi
Dalam sepi yang menghipnotis diri

Untuk kalian para pencari kebahagiaan
Dan untuk diriku sang pelopor tujuan

Sabtu, 21 September 2013

Ini bukan tentang penyesalan
Juga bukan tentang kenaifan

Tapi seonggok rasa
Meliuk nendekap jiwa

Meracau disuasana kacau
Menjerit dalam gejolak sengit

Perlahan aku coba teorikan
Menguak kesemuan dalam sebuah angan

Belum aku jumpai pencapaian
Tapi berjuta dilema banyak ku telan

Intinya hanya sederhana
Keingin tahuan tentang arti sebuah rasa
Terbuai dalam lara sang pewaris tahta
Menangis, dengan sejuta kalimat manis
Melangkah mundur menyapu jejak
Menabur kapur ku garis di aspal

Teranyam rapih di bebatuan
Membuka kembali seberkas memori
Menyiratkan fatamorgana dengan mata berkaca
Merobohkan kembali asa yang dulu perkasa

Walau udara memaksa, untuk memejam mata
Terjaga dalam pekat yang memikat
Sedikit petikan jemari pada temali
Mencipta dentum musik di kelamnya malam

Purnama yang Senada pada akhir kata
Simbolis rasa mewakili sukma
Aku lupa dengan semua,
Semua semakin terasa sirna

Butir debu itu terbang
Perlahan dan hilang

Aku takmampu lagi mengecap hambar
Hanya sedikit terdengar samar

Jingga di ufuk pertanda senja
Tak lagi ku lihat jauh pandangnya

Memori terurai, tanpa air mata berderai
Namun aku jalani dengan seringai

Menunggu ufuk terbit dengan sinarnya
Seraya aku bangkit dengan semangatnya

Mencoret lembaran baru dan Melukis seberkas memori semu

Rabu, 04 September 2013

Seperti berdiri di persimpangan, aku punya banyak pilihan.

Tapi semua harus ku korbankan, dan satu aku jalankan

Entah kemana kaki menapaki, aku lewati dengan tertatih

Sesal tak ku hirau, hanya sedikit meracau

Banyak luka ku jelajahi, hanya terasa dalam sanubari
Berlariku dengan melayang,
Seribu roda melaju kencang

Melewati tiap kota
Menyusuri Panorama

Dalam jendela kaca nampak berbayang, Lukisan indah ciptaan tuhan
Terasa sungguh nikmat sembayang, pada sederet gerbong yang berjalan

Senja pergi petang menanti
Tak terasa sejauh ini

Tampak berganti suasana hari
Dari sinar menjadi binar

Gelap tapi gemerlap
Walau pekat sungguh memikat

Seperti dikejar hantu, kereta melaju menjangkau waktu

Tak lagi sampai kurasa
Aku turun di stasiun berikutnya

Biar petang masih membayang
Aku siap meniti langkah pulang
Subscribe to RSS Feed Follow me on Twitter!