Tampilkan postingan dengan label Puisi Dan Pantun. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi Dan Pantun. Tampilkan semua postingan

Selasa, 10 Juli 2018

Jadikan itu candu, sifat yang menghakimi kehidupanku
Jika lara itu yang ku cari, rela akan aku nikmati
Ceritakan aku kisah paling sendu dengan perisa yang pekat
Agar gandrung pada pesonanya segara asmara
Hingga menghanyutkan kembali pada hilir nestapa
Paradox ini tak berhenti, berlalu dan terus kembali
Bagai kutukan, aku mencintai kecintaan siapapun padaku
Anggap saja sebuah kenikmatan, aku lantang dan aku lancang
Lalu sang keadaan menyapaku, membawa pedih

Jumat, 04 Agustus 2017

Kotak ini ganjil, coba saja buka lalu lihat sudut terasing yg tak pernah kamu pikirkan. Disana ada sebutir keinginan, kecil namun sangat rentan untuk di acuhkan. Lalu aku berikan kotaknya padamu, silahkan bungkus lalu taruh di barisan terbelakang dalam almari tua. Biar tak lagi ada yang cari, agar mati dan tetap tersembunyi hingga arloji kehilangan energi.

Jika harus sirna ya biarlah sirna, tak pernah memaksa, juga tak pernah ber asa. Karena seekor kenari takan pernah sanggup menyebrangi samudranya, bukan berarti dia berhenti dengan kicauanya. Tetap memanggil manggil nama sang pemilik lewat nyanyian, senyaring seruling angin laut, lembut selirih fajar berkabut.

Lalu bagaimana kamu? Bisakah kamu terganggu karena itu? Aku berharap demikian dan aku tetap pada penantian. Balasmu ku tunggu di ujung perempatan, ku nanti, ku nikmati, sambil hanya mengamati mereka yang sejenak berhenti untuk menyapa ku. Tidak akan pernah kugenggam tanganku, hanya menanti saat,,, kamu tak lagi mampu untuk berjalan... Dan tetaplah begitu, jangan kau hiraukan bebanku. Aku pastikan padamu kebahagiaan, tanpa perlu kaki untuk berjalan.

Minggu, 19 Oktober 2014

Ini malam ku sayang, walau kadang yg lalu tak sedingin ini.
Matamu kini terpejam, tinggal aku berbayang dirimu.
Senyum manis ituu tetap menghiasi lelap mu, dalam asiknya eurofia mimpi kurasa.

Ingin ku sandingkan mawar disamping wajah indahmu, seperti ilustrasi lagu itu.
Oh tuhan kirimkan lah aku kekasih yang baik hati, yang mencintai aku apa adanya..
Sayang, harapku esok fajar tetap bawalah hatimu dalam kegembiraan.
Karena aku mencintaimu, sayang...
Sedihmu adalah lukaku.
Tidurlah,.. selamat malam 

aku mencintaimu...

Minggu, 07 September 2014


Ku gali lagi kotak memori saat lama itu, kini berlalu hanya menjadi kisah semu berselimut bayang mu.
Mengungkap kenangan yang tak pernah terungkap pada coretan tanpa tinta di buku diary kosong.
Sulit menerjemahkan rasa, seperti tak memiliki tapi begitu takut kehilangan.
Cinta, pantaskah ku sebut dengan kata itu?
Rangkaian huruf sakral terletak antara garis kebahagiaan dan jurang penderitaan.
Namun siapa sangka jawaban dari suara lirihmu menerbitkan asa seperti fajar pada esok pagi.
Relung dalam hati yang bersorak tersipu, memfrasekan tiap bait puisi ini.
Mengamati indah yang tak terlukis, namun tergambar wujudnya pada pipi merah  mu.
Seperti laut yang terpisah tanpa pantainya, seakan rasa tak percaya dengan lanjut kalimat yang tiba tiba kau tuturkan.
Bak dihujani ribuan tanda tanya kala engkau hanya berseru dengan kalimat yang sama.
Seketika buta tak terjelaskan walau mencoba menerawang apa yang kamu sembunyikan.
Curiga menghantui rasa takut pada alasan yang tak ingin ku dengar penjelasanya darimu.

Walau hingga kini kamu tetap bungkam membiarkanku lumpuh akan keputusasaanku, aku tetap mencintai kamu.

Senin, 02 Desember 2013

Kamu yang selalu aku tulis...
Dan aku yang tak pernah kamu baca...

Salam sang penulis,
Dari catatan sebuah nama,
Yang banyak menoreh cerita,
Namun,
Sudah saatnya aku berpaling
Menepi pada jalan yang dulu ku pijaki

Aku akan kembali,...
Kembali di era itu
Seperti dulu,...
Aku dapat membisu

Dan Jangan salahkan senyumku!!!
Tapi inilah jalanku...
Dengarlah,
Dengarlah wahai wanita,...
Hari ini menjadi saksi!!!
Aku berhenti,...!!!
Dengan semua ini,
Rasa yang ku korbankan,
Sebagai saksi penyesalan!!!

Puisi hati
Cerita ini
Mengakhiri ironi,
Sekali lagi,
Dengarlah bicara hati...!!!

"Sempat aku mengerti,...
Harusnya aku lari,
Dan aku coba lupa...
Kabar itu harusnya biasa...
Tapi kenapa dengan rasa??
Terengah, Sesak, Perih!!!
Membuat asa itu tersambung kesekian kali!!!
Kenyataan yang tak mau ku relakan!!!
Semua tentang kamu...
'Kamu' di Puisi itu..."

Terimakasih

Sabtu, 23 November 2013

Aku dalam perjalananku, Ingkar terhadap janjiku...
Pantang wanita ku sebut dengan lidah ini, Tetapi kini ku gandeng erat dengan jemariku
Aku ingin kembali pada langkah dulu,
Janji yang ku ikat erat di jantungku,
Sebagai tanda ingkar pada ikrar,
 Maka silahkan cabut nafasku,!!!

Rabu, 06 November 2013

Jasmani kini di ujung belati sang raja hari, menyengat kulit, membakar akal, menabur peluh, yang penuh penyeluruh membasuh tubuh...

Sontak irama pekik kata itu mengundang ku ke pelataran rumah reot kecil yang beratap serabut...

Menjajakan segelas air dengan tetesan embun dingin untuk ku hela seraya aku sandarkan tubuh pada batang pohon...

Imajinasiku meluas berbayang tentang asa tinggi yang ku damba pada hari pagi.

Namun senjaku terlanjur sudah meraja diri, kini aku hanya pria tua dengan cangkul dan sabit untuk kujadikan nasi...

Tinggal harapan kecil pada seonggok daging kurus yang menafkahi diri di padang padi...

Terimakasih tuhan engkau masih mengasihani si renta ini...

Senin, 14 Oktober 2013

Mencoba menguak peristiwa di dalam kesemuan rasa yang tak tersurat dalam kata. Membuatku berteori tentang pesona emosi yang tak pernah ku ketahui.
Hari hari yang indah kini selesai sudah, seiring senja meredupkan sinar jingga yang teriknya mewarnai air di mata.
Kadang ku ratapi masa masa kembali, menyortir uraian pecahan kenangan yang berhamburan.
Pekatnya petang tanpa bintang mengisi ruang hampa dalam bekas rajutan lubang pada hati yang sering menyeruak sesak.
Begitu bervariasi rasa yang kau beri, sehingga aku lupa bahwa aku berdiri dalam fatamorgana
Ingin belati ku tikam ke hati, agar aku berhenti bermimpi dan bangun sebagai manusia dengan rasa yang mati.

Selasa, 24 September 2013

Kusandarkan tubuh ini di sudut kelas
Menggores pena pada sebuah kertas

Secercah sinar dari lampu temaram
Menemaniku di kesunyian terdalam

Kusaksikan mereka tertawa
Aku mengeluh pada sahabat pena

Senyum di wajahnya mengubah suasana
Namun aku diam putus asa

Mungkin mereka bisa menumpahkan emosi
Tapi seseorang di pojok itu butuh di mengerti

Sudah lah,
Aku coba bangkit merekayasa senyum
Berbaur pada luka yang mereka buat
Mengisi hati yang tak ingin di hiasi
Dalam sepi yang menghipnotis diri

Untuk kalian para pencari kebahagiaan
Dan untuk diriku sang pelopor tujuan

Sabtu, 21 September 2013

Ini bukan tentang penyesalan
Juga bukan tentang kenaifan

Tapi seonggok rasa
Meliuk nendekap jiwa

Meracau disuasana kacau
Menjerit dalam gejolak sengit

Perlahan aku coba teorikan
Menguak kesemuan dalam sebuah angan

Belum aku jumpai pencapaian
Tapi berjuta dilema banyak ku telan

Intinya hanya sederhana
Keingin tahuan tentang arti sebuah rasa
Terbuai dalam lara sang pewaris tahta
Menangis, dengan sejuta kalimat manis
Melangkah mundur menyapu jejak
Menabur kapur ku garis di aspal

Teranyam rapih di bebatuan
Membuka kembali seberkas memori
Menyiratkan fatamorgana dengan mata berkaca
Merobohkan kembali asa yang dulu perkasa

Walau udara memaksa, untuk memejam mata
Terjaga dalam pekat yang memikat
Sedikit petikan jemari pada temali
Mencipta dentum musik di kelamnya malam

Purnama yang Senada pada akhir kata
Simbolis rasa mewakili sukma
Aku lupa dengan semua,
Semua semakin terasa sirna

Butir debu itu terbang
Perlahan dan hilang

Aku takmampu lagi mengecap hambar
Hanya sedikit terdengar samar

Jingga di ufuk pertanda senja
Tak lagi ku lihat jauh pandangnya

Memori terurai, tanpa air mata berderai
Namun aku jalani dengan seringai

Menunggu ufuk terbit dengan sinarnya
Seraya aku bangkit dengan semangatnya

Mencoret lembaran baru dan Melukis seberkas memori semu

Rabu, 04 September 2013

Seperti berdiri di persimpangan, aku punya banyak pilihan.

Tapi semua harus ku korbankan, dan satu aku jalankan

Entah kemana kaki menapaki, aku lewati dengan tertatih

Sesal tak ku hirau, hanya sedikit meracau

Banyak luka ku jelajahi, hanya terasa dalam sanubari
Berlariku dengan melayang,
Seribu roda melaju kencang

Melewati tiap kota
Menyusuri Panorama

Dalam jendela kaca nampak berbayang, Lukisan indah ciptaan tuhan
Terasa sungguh nikmat sembayang, pada sederet gerbong yang berjalan

Senja pergi petang menanti
Tak terasa sejauh ini

Tampak berganti suasana hari
Dari sinar menjadi binar

Gelap tapi gemerlap
Walau pekat sungguh memikat

Seperti dikejar hantu, kereta melaju menjangkau waktu

Tak lagi sampai kurasa
Aku turun di stasiun berikutnya

Biar petang masih membayang
Aku siap meniti langkah pulang

Jumat, 30 Agustus 2013

Haruskah aku memaksa, hati ini untuk merasa?
Hanya untuk mencipta, dari sederet kalimat dan kata?

Aku tak ingin mengungkit masa lalu, tapi karya ini begitu tabu
Aku ingin coretanku bernyawa, seperti memori indah dalam sebuah fenomena

Aku hanya masa lalu yang terseret getir kemunafikan, dan hidup dalam kepalsuan karena pahitnya celaan.
Aku mati, seakan tangan ini bergerak sendiri, menyetuh huruf demi huruf di sebuah papan persegi.

Bukan karena rasa, hanya seberkas hobi untuk bermain kata.
Aku ingin seperti ini, tetap berprofesi menjadi diri
Berhenti membuka diary, dan menunggu masa nanti yang harusnya ku lewati.

Selasa, 27 Agustus 2013

Kata indah dari nirwana yang rapuh karena fakta
Bisikan opini dari neraka mereka buat nyata

Pijakan ini tak seluas samudera
Kenapa tak kau kuasai saja itu semua?

Jangan punya kami kau jadikan tujuan
Jangan diri kami kau buat permainan

Kami punya impian, tapi kau runtuhkan
Kami punya kehidupan, tapi kau abaikan
Kalian mungkin bahagia, walau kami disini sengsara
Kalian tidak salah, hanya kami yang lengah

Nanti kau janjikan kami asa
Tapi fakta hanya membawa duka

Kami letih menghakimi
Kami cuma berharap anda mengertii
Ah.. Laknat lah semua suara ini
Yang bernyanyi mengiring sunyi

Aku diam!
Telingaku menyimak melodi tawa
Pekik sorak pikiran
Melantamkan "HENTIKAN"

Gejolak Pemberontak dari Jiwa Kelana
yang Tersenyum dalam sepi
Aku tak punya lagi harga diri

Bajingan kalian, bajingan cara kalian
Gelak tawamu penghinaan bagiku

Riuh Gaduh
aku risih, Aku ogah kau ceramahi

Gendang ini ingin pecah Ketika kau khotbah
Sanubari ini ingin mati, daripada kau ludahi

Selasa, 20 Agustus 2013

Aku terbaring di loteng, Saat gemerlapnya malam dari lampu indah di perumahan

Menatap gundah sebuah angkasa, dengan ramah aku bertanya, siapakah yang punya?

Karena bintang yang ku nanti, yang selalu di hati, dimanakah malam ini?

Semilir angin, beserta semerbak aroma dunia, melingkupi pekatnya udara

Aku dikota, walau sejuknya kabutnya dinginya tak pernah lagi kurasa

Aku cukup bahagia, dengan semua

Walau penat selalu mendekat, Dan bosan menjadi kebiasaan

Tapi tak lagi aku merasa sepi, Karena kamu bintang harapanku

Walau hanya terkadang engkau ku lihat, Setia ku dan penantianku hanya padamu

Senin, 19 Agustus 2013

Rembulan mengundang tawa, kadang canda tanpa terasa
Binarmu memberi asa, dalam pekatnya suasana,

Bila sunyi mendekati
Derai air mata, yang kurasa

Walau penat kuingat lagi,
Sungguh mengoyak rasa

Walau aku coba berlari lagi
Sangat menyeruak jiwa

Sanubari tak dapat lagi di pungkiri
Sepi selalu menanti, mengiringi langkah ini

Sinar benderang mu bulan adalah sebuah harapan
Yang selalu ku tanam di lubuk hati terdalam

Kapan bisa aku mengerti tentang semua ini
Walau malam berganti hari,

Apa hati ini dapat terisi?

Aku tak butuh riangnya kicauan
Aku tak butuh semaraknya hiburan

Aku butuh seruan, bantahan, keberanian!
Tapi itu hanya pikiran

Namun hati ini berlainan..

Kapan aku berhenti, berhenti dari mencari
Menelusuri jawaban dari ribuan pertanyaan

Ingin ku tanyakan apa yang ku butuhkan

Tapi lucu rasanya,
Bertanya pada jawaban

Penat terasa aku renungkan

Ahh tak perduli dengan apa yang terjadi!!

Gontai langkah ini
Semua terlihat gelap,
Denyut nadi ini pun melambat

Apa aku akan mati?, tapi..
Aku tak bunuh diri

"Ah persetan" racauanku dalam hati
Dan tersadar aku di esok pagi

Minggu, 18 Agustus 2013

Terpekur aku di rintik hujan,

Dibalik teralis aku menangis,

Ku coba basahi pipi

Tapi,,..
Laksana minyak airmata ini!

Percuma aku berdiri!!
Sedih ini tak pernah terobati

Andai perjaka disana adalah pujangga,
Hati yang ku titipkan, tolong kau lukiskan

Aku lelah,..
Aku benci berlari,

Derasnya hujan banyak ku lalui, agar larut air mata ini!
Subscribe to RSS Feed Follow me on Twitter!