Jumat, 30 Agustus 2013

Haruskah aku memaksa, hati ini untuk merasa?
Hanya untuk mencipta, dari sederet kalimat dan kata?

Aku tak ingin mengungkit masa lalu, tapi karya ini begitu tabu
Aku ingin coretanku bernyawa, seperti memori indah dalam sebuah fenomena

Aku hanya masa lalu yang terseret getir kemunafikan, dan hidup dalam kepalsuan karena pahitnya celaan.
Aku mati, seakan tangan ini bergerak sendiri, menyetuh huruf demi huruf di sebuah papan persegi.

Bukan karena rasa, hanya seberkas hobi untuk bermain kata.
Aku ingin seperti ini, tetap berprofesi menjadi diri
Berhenti membuka diary, dan menunggu masa nanti yang harusnya ku lewati.

Selasa, 27 Agustus 2013

Kata indah dari nirwana yang rapuh karena fakta
Bisikan opini dari neraka mereka buat nyata

Pijakan ini tak seluas samudera
Kenapa tak kau kuasai saja itu semua?

Jangan punya kami kau jadikan tujuan
Jangan diri kami kau buat permainan

Kami punya impian, tapi kau runtuhkan
Kami punya kehidupan, tapi kau abaikan
Kalian mungkin bahagia, walau kami disini sengsara
Kalian tidak salah, hanya kami yang lengah

Nanti kau janjikan kami asa
Tapi fakta hanya membawa duka

Kami letih menghakimi
Kami cuma berharap anda mengertii
Ah.. Laknat lah semua suara ini
Yang bernyanyi mengiring sunyi

Aku diam!
Telingaku menyimak melodi tawa
Pekik sorak pikiran
Melantamkan "HENTIKAN"

Gejolak Pemberontak dari Jiwa Kelana
yang Tersenyum dalam sepi
Aku tak punya lagi harga diri

Bajingan kalian, bajingan cara kalian
Gelak tawamu penghinaan bagiku

Riuh Gaduh
aku risih, Aku ogah kau ceramahi

Gendang ini ingin pecah Ketika kau khotbah
Sanubari ini ingin mati, daripada kau ludahi

Jumat, 23 Agustus 2013

Tonggak Ilmu adalah Filsafat yang di dasari pada kata "Kebenaran" dalam titahnya kebenaran itu sendiri hanya untuk di ketahui, bukan di manfaatkan. Seperti halnya politisi, mereka menjadikan kebenaran sebagai dasar prinsip yang di emban selama hidup dan mengatasnamakan kebenaran dalam cara cara mereka. Banyak yang harus di kaji lagi tentang kebenaran. Agar tidak di artikan semata mata hanya "Kebenaran itu Relatif".

Kebenaran adalah buah hasil pemikiran dan relatif itu hanya dalam penalaran kita. Kebenaran pemikiran hanya untuk di ketahui dan sifatnya sangat independen. Sehingga kebenaran dalam katagori ini jika di terapkan dalam keseharian dampaknya akan 50 banding 50 dalam kebaikan dan keburukan. Karena sifatnya yang terlalu independen atau bebas, biasanya kebenaran ini hanya timbul dari pemikiran individu yang belum terbukti nilai gunanya.

Berbeda dengan kebenaran yang di lahirkan dari hasil pemikiran 1 orang atau lebih(sepemikiran) dan di akui oleh sekelompok orang. Atau yang biasa saya bilang "Kebenaran Mayoritas". Kebenaran ini adalah jenis yang paling menguntungkan umat. Karena pengakuan dari sekelompok orang didasari oleh nilai keuntungan yang di peroleh kelompok itu sendiri.

Dalam kehidupan yang singkat ini, kita di tuntut untuk bersosialisasi bukan menguntungkan diri. Kebenaran yang banyak di salah artikan para politisi adalah jenis kebenaran relatif yang di dasari pada pemikiran individu saja. Mereka tidak mengartikan kebenaran ini sebagai dasar ilmu, tapi diartikan sebagai ilmu, yang harus di terapkan. Namun penerapanya hanya untuk kepentingan individu. Padahal dalam hakikatnya Ilmu pemanfaatanya untuk kepentingan umat banyak.

Sekian kajian singkat tentang kebenaran. Perbedaan antara dasar ilmu dan ilmu akan di bahas berikutnya. Jika anda membaca ini. Berarti anda termasuk orang yang yang akan merasa "Berada di mana saya sekarang". Renungkan, Pikirkan, Nalari Opini tidak berguna ini. Mungkin akan banyak Hinaan, Celaan, tapi saya mengharapkan itu semua. Karena Artikel ini hanya "Kebenaran Relatif" yang menghina para politisi. tapi 1 pesan yang jelas "Setan itu Licik" Sehebat hebatnya kalian berpolitik di atas politik. Setan lebih hebat dalam politik!!

Selasa, 20 Agustus 2013

Aku terbaring di loteng, Saat gemerlapnya malam dari lampu indah di perumahan

Menatap gundah sebuah angkasa, dengan ramah aku bertanya, siapakah yang punya?

Karena bintang yang ku nanti, yang selalu di hati, dimanakah malam ini?

Semilir angin, beserta semerbak aroma dunia, melingkupi pekatnya udara

Aku dikota, walau sejuknya kabutnya dinginya tak pernah lagi kurasa

Aku cukup bahagia, dengan semua

Walau penat selalu mendekat, Dan bosan menjadi kebiasaan

Tapi tak lagi aku merasa sepi, Karena kamu bintang harapanku

Walau hanya terkadang engkau ku lihat, Setia ku dan penantianku hanya padamu

Senin, 19 Agustus 2013

Rembulan mengundang tawa, kadang canda tanpa terasa
Binarmu memberi asa, dalam pekatnya suasana,

Bila sunyi mendekati
Derai air mata, yang kurasa

Walau penat kuingat lagi,
Sungguh mengoyak rasa

Walau aku coba berlari lagi
Sangat menyeruak jiwa

Sanubari tak dapat lagi di pungkiri
Sepi selalu menanti, mengiringi langkah ini

Sinar benderang mu bulan adalah sebuah harapan
Yang selalu ku tanam di lubuk hati terdalam

Kapan bisa aku mengerti tentang semua ini
Walau malam berganti hari,

Apa hati ini dapat terisi?

Aku tak butuh riangnya kicauan
Aku tak butuh semaraknya hiburan

Aku butuh seruan, bantahan, keberanian!
Tapi itu hanya pikiran

Namun hati ini berlainan..

Kapan aku berhenti, berhenti dari mencari
Menelusuri jawaban dari ribuan pertanyaan

Ingin ku tanyakan apa yang ku butuhkan

Tapi lucu rasanya,
Bertanya pada jawaban

Penat terasa aku renungkan

Ahh tak perduli dengan apa yang terjadi!!

Gontai langkah ini
Semua terlihat gelap,
Denyut nadi ini pun melambat

Apa aku akan mati?, tapi..
Aku tak bunuh diri

"Ah persetan" racauanku dalam hati
Dan tersadar aku di esok pagi

Minggu, 18 Agustus 2013

Terpekur aku di rintik hujan,

Dibalik teralis aku menangis,

Ku coba basahi pipi

Tapi,,..
Laksana minyak airmata ini!

Percuma aku berdiri!!
Sedih ini tak pernah terobati

Andai perjaka disana adalah pujangga,
Hati yang ku titipkan, tolong kau lukiskan

Aku lelah,..
Aku benci berlari,

Derasnya hujan banyak ku lalui, agar larut air mata ini!

Sabtu, 17 Agustus 2013

Sepenggal hujan tadi, banyak menyisakan arti. bahwa diri ini sudah tak lagi suci. aku mengerti sekali betapa bodohnya diri. siapa yang kau nodai tak lagi berarti. aku sendiri di sini terdiam hampa di kotak persegi. 

Aku menanti, namun siapa yang perduli? diri ini bukan lagi diri, hanya wayang tanpa dalang. Aku harus apa? apa aku tanya mengapa? lalu siapa sudi berkata. aku hanya aku yang hanya butuh maaf, bagi yang punya berjuta maaf.

Hanya soal waktu, tak ada guna jika tersedu. sedikit harapan, seiring sisakehidupan. aku masih mencari surgamu, jika jujur adalah jalanmu, bukan hal tabu jika aku mengadu.

suara manis penuh penyesalan terlintas bersama angin malam. pecah keheningan itu menyisa syahdu. aku dirayu oleh dinginya kalbu, gelap yang mengukir sunyi terasa menusuk rusuk. jiwa ini di tengah dilema, apa dia bisa merasa?

Harapan lagi, ah lagi lagi harapan, jenuh ku palingkan wajah untuk penyair sepertimu. sudahlah pergi saja, tak cukupkah kau buat luka?
Apa yang kurasakan ini, bukan kenyatan
Hanya sebatas Opini, yang berlebihan

Aku buta, dibalik terang yang kau berikan
Aku ragu, pada janji yang kau ikrarkan

Lelah aku berdiri, bosan aku berjalan
Aku ingin berlari, mencari yang tidak pasti

Meneteskan harapanku sendiri
Walau kecil kemungkinan

Satu yang ku tau pasti
Karena harapan tetaplah harapan

Kamis, 15 Agustus 2013

Saat dimana kupandangi diri
Berjuta puisi menanti
Seperti para penjanji
Yang selalu mengingkari

Alunan irama gelombang
Seraya ku berkembang
Saat menghempas karang
Dalam penantian yang panjang

Tak perlu disesali kenapa
Inilah adanya
Karna hidup hanya sementara
Dan akan kembali kepadanya
Subscribe to RSS Feed Follow me on Twitter!